Bella Winanda Putri
STr Keperawatan Lawang Tingkat 1
bellawinanda49@gmail.com
Abstrak : Diabetes melitus
tipe 2 adalah penyakit yang banyak menyerang lansia yang disebabkan oleh hiperglikemia
atau naiknya gula darah karena kekurangan sekresi insulin sehingga
mengakibatkan gangguan metabolik pada tubuh. Faktor resiko dari diabetes
melitus tipe 2 yaitu genetik, usia, kegemukan, jenis kelamin, dan pola hidup. Banyak
yang beranggapan bahwa genetik adalah faktor resiko yang paling utama, anggapan
tersebut tidak sepenuhnya benar karena pola hidup adalah yang menjadi penentu
faktor utama. Jika tidak secara cepat ditangani, dapat memicu penyakit kronis
lain yang dapat mengakibatkan komplikasi yang menyerang organ vital pada tubuh.
Penderita diabetes melitus tipe 2 biasanya akan dilakukan suntik insulin,
tetapi ada cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan pencegahan, penundaan,
dan penghilangan faktor resiko. Diperlukan pemahaman terkait diabetes melitus
tipe 2 terkait dengan penanganannya.
Kata Kunci : Diabetes melitus tipe 2, insulin, faktor
resiko
Pendahuluan
Banyak
penyakit yang menyerang manusia salah satu contohnya diabetes melitus. Diabetes
melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering dikenal dengan nama kencing manis dan menjadi ibu dari
segala macam penyakit.
Diabetes
melitus dibagi menjadi beberapa tipe, tetapi diabetes melitus tipe 2 adalah
penyakit yang sering diderita orang lanjut usia diantara beberapa penyakit yang
lain. Hal ini dapat terjadi karena dalam masa lanjut usia akan mengalami
perubahan fisik tubuh, dan mengalami penurunan fungsi kerja sistem organ.
Diabetes melitus tipe 2
adalah penyakit yang ditandai dengan terjadinya gangguan pada karbohidrat,
protein dan lemak sehingga menyebabkan terjadinya hiperglikemia. Banyak yang
menyalahkan faktor genetik sebagai pemicu penyakit diabetes melitus tipe 2, hal
tersebut tidak sepenuhnya benar karena pemicu penyakit tersebut tergantung dari
pola hidup sehari hari.
Definisi Diabetes Melitus Tipe 2
Menurut ADA (dalam
Soegondo 2009) diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit metabolik disertai
karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin,
gangguan kerja insulin atau keduanya, sehingga menimbulkan berbagai penyakit
komplikasi kronik pada bagian mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah.
Pendapat ini ditunjang
dengan pendapat sebelumnya, menurut Depkes (2005) diabetes melitus tipe 2 atau
DM Tipe 2 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan gula
darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas atau gangguan
fungsi insulin yaitu resistensi insulin.
“Penderita diabetes melitus tipe 2 mampu
memproduksi insulin dalam jumlah cukup, tetapi glukosa gagal masuk ke dalam
sel. Menjadi bergantung insulin jika penyakit berkembang parah sehingga insulin
tidak mampu dihasilkan oleh tubuh.” (Lingga, 2012:3).
Diabetes
melitus tipe 2 adalah penyakit yang banyak diderita pada lanjut usia. Jumlah
penderita diabetes melitus terbesar berusia 40-60 tahun (IDF, 2011). Tidak
heran jika banyak angka kematian setiap tahunnya. Bahkan menjadi penyebab angka
kematian kedua setelah HIV/AIDS. Penyakit ini bahkan dinamakan dengan Mother of
Disease.
Gejala
Diabetes Melitus Tipe 2
Ada faktor tentu ada
gejala yang ditimbulkan. Gejala penyakit diabetes melitus tipe 2 dibedakan
menjadi dua yaitu gejala yang tampak dan gejala yang ditimbulkan. Gejala yang
tampak seperti rasa haus berlebih, buang air kecil dalam jumlah yang banyak,
sering letih tanpa sebab, timbul rasa gatal dan terjadi peradangan kulit
menahun (Lanywati 2011:15). Gejala yang ditimbulkan adalah sebagai akibat,
seperti penurunan berat badan drastis, timbul rasa kesemutan pada tangan dan
kaki, timbulnya luka pada kaki dan tak kunjung sembuh, serta kehilangan
kesadaran. Pengidap diabetes melitus tipe 2 memiliki kadar gula darah puasa
melebihi 130 mg% dan kadar gula darah 2 jam setelah makan lebih dari 160 mg%
(Tjokroprawiro 1986:2). Menurut Soegondo (2004) jika
berlangsung menahun berpeluang besar mengakibatkan ketoasidosis ataupun hipoglikemia.
Faktor
Penyebab Diabetes Melitus Tipe 2
Banyak
faktor yang mengakibatkan diabetes melitus tipe 2 banyak diderita pada lanjut
usia. Faktor tersebut diantaranya keturunan, kegemukan, kekurangan gizi, sering
mengkonsumsi obat obatan yang berkepanjangan sehingga menimbulkan efek samping
terhadap tubuh, serta penyakit yang menyerang kelenjar endokrin (Ramaiah
2008:11).
Faktor keturunan, usia,
dan kegemukan menjadi faktor utama. Resiko terkena penyakit tersebut besar jika
ada garis keturunan keluarga yang mengidap penyakit tersebut. Selain itu, faktor
usia sangat mempengaruhi karena dalam tahap proses penuaan, kinerja fungsi
organ di dalam tubuh juga mengalami penurunan. Menurut Sunjaya (2009)
dikarenakan adanya proses penuaan menyebabkan berkurangnya kemampuan sel β pankreas dalam memproduksi insulin. Diabetes
melitus tipe 2 juga menyerang orang yang memiliki gaya hidup tidak sehat,
seperti kebanyakan mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tetapi
kandungan serat dan vitaminnya rendah (Sudarmoko 2005:11). Sebagian besar
penderita diabetes melitus tipe 2
mengalami kelebihan berat badan karena penumpukan lemak dalam tubuh.
Selain itu, faktor
stress juga mendapat andil yang besar. Penderita akan mengalami tekanan
psikologi, untuk itu perlu adanya pengendalian psikologi. Menurut Notosoedirdjo & Latipun (dalam Azizah 2011)
pada fase ini tugas lansia untuk melihat perjalanan hidupnya. Menurut
Mitra (2008) manajemen stress sebaiknya dilakukan
secara terus menerus, tidak hanya ketika tertekan.
Komplikasi Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2
Banyak penyakit yang
timbul akibat diabetes melitus tipe 2. Menurut Tabrani (1995:15) komplikasi penyakit
yang diakibatkan diantaranya penyempitan pembuluh darah jantung, penyakit
pembuluh darah ginjal, penyempitan pembuluh darah otak, penyakit yang menyerang
organ mata, terjangkitnya berbagai macam infeksi seperti infeksi tuberkulosis
dan infeksi pada kaki.
Tidak jarang penderita
diabetes melitus yang sudah parah menjalani amputasi anggota tubuh karena
terjadi pembusukan (Depkes,2005). Hal ini dapat terjadi karena pasien mengalami
keterlambatan pengobatan, sehingga ketika dibawa ke dokter kondisi penyakit
pasien sudah akut.
Pengobatan
Diabetes Melitus Tipe 2
Setiap penyakit tentu
ada cara untuk mengobatinya. Menurut Ramaiah (2008:26 & 139), untuk
mengobati diabetes melitus dengan beberapa cara, diantaranya melakukan
suntik insulin, gaya hidup yang lebih sehat, olahraga secara
rutin, menggunakan
obat syzgium, jaborandi, gymnema sylvestra, uranium nitrat, asam fosforat, asam
laktat, asam asetat serta fosfor, melakukan relaksasi diri, menjaga pola makan
atau memodifikasi makanan, terapi air dan lumpur untuk meningkatkan fungsi
pankreas dan kaki, menghilangkan racun.
Alangkah baiknya
melakukan upaya agar tidak terjangkit penyakit diabetes melitus tipe 2. Diabetes
melitus tipe 2 bisa dicegah, ditunda kedatangannya atau dihilangkan dengan
mengendalikan faktor resiko (Kemenkes, 2010).
Faktor resiko terhadap
penyakit tidak menular dibedakan menjadi dua, pertama adalah faktor resiko yang
tidak dapat berubah seperti jenis kelamin, usia, dan faktor genetik. Faktor resiko
kedua yang dapat diubah seperti kebiasaan merokok (Bustan, 2000). Cara
pencegahan dan penanggulangan penyakit diabetes melitus tipe 2 adalah kesadaran
individu, menjaga pola makan dan gaya hidup sehat didasari pengetahuan. Bisa
juga dengan menjalankan diit diabetes tipe 2 (Tjokroprawiro 1999:17). Dengan
adanya pengetahuan orang akan memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatannya
(Irawan, 2010). Peran penyuluhan penyakit ini
sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien dalam mengendalikan
diabetesnya (Soegondo, 2004). Dalam upaya ini diperlukan kerja sama yang baik
antara pasien dengan tenaga medis seperti perawat maupun tenaga medis yang lain
terkait dengan komplikasinya.
Penutup
Berdasarkan penjelasan
di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit diabetes melitus tipe 2 adalah
penyakit tidak menular dimana penderitanya mengalami kelebihan gula darah
sehingga mengganggu fungsi kerja hormon insulin yang disebabkan bukan hanya
karena faktor resiko genetik tetapi juga pola hidup yang tidak sehat. Untuk
mencegah penyakit ini meliputi pencegahan, penundaan, penghilangan resiko, juga
dapat dilakukan dengan pemahaman penyakit serta kembali pada kesadaran pola
hidup sehat pada masing masing individu, dan untuk hasil yang akurat dapat
dilakukan dengan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium. Diabetes
melitus tipe 2 tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi dapat dikendalikan
penyebarannya agar tidak menyebabkan komplikasi akut.
Daftar Rujukan
Azizah,
L.M. 2011. Keperawatan Lanjut Usia.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Bustan.
2010. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Irawan,
D. 2010. Prevalensi dan Faktor Risiko
Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Daerah Urban Indonesia (Analisa Data
Sekunder Riskesdas 2007). Thesis Universitas Indonesia.
Kanza,
F. 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik Pada
Ny.S (70 Tahun) Dengan Diabetes Melitus di Ruang Mawar Panti Wredha Harapan Ibu
Ngaliyan Semarang. Semarang: Jurnal Kesehatan. 1-106.
Lanywati,
E. 2011. Diabetes Mellitus Penyakit
Kencing Manis. Yogyakarta: Arcan.
Lingga,
L. 2012. Bebas Diabetes Tipe-2 Tanpa Obat.
Jakarta: PT Agro Media Pustaka.
Mitra,
A. 2008. Diabetes and Stress. A
Review Ethno-Med 2(2): 131-135.
Ramaiah,
S. 2008. Diabetes. Jakarta: PT Bhuana
Ilmu Populer.
Sanjaya,
I.N. 2006. Pola Konsumsi Makanan
Tradisional Bali Sebagai Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe II di Tabanan.
Bali.
Soegondo,
S., Soewondo, P. & Subekti, I. 2009. Penatalaksanaan
Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.
Sudarmoko,
A. 2005. Tetap Tersenyum Melawan Diabetes.
Yogyakarta: Atma Media Press.
Tabrani.
1995. Kencing Manis. Jakarta: Arcan.
Tjokroprawiro,
A. 1999. Diabetes Mellitus Klasifikasi,
Diagnosis, dan Terapi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tjokroprawito,
A. 1986. Diabetes Mellitus dan
Macam-Macam Diet Diabetes B, B1, B2, B3 dan Be. Surabaya: Lembaga
Penerbitan Universitas Airlangga.
Trisnawati,
S.K., Setyorogo, S. 2013. Faktor Risiko
Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta
Barat Tahun 2012. Jakarta: Jurnal Ilmiah Kesehatan. 6-11.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar