Selasa, 09 Oktober 2018

MENCEGAH PLAGIARISME DALAM PENULISAN ARTIKEL ILMIAH



Bella Winanda Putri
STr Keperawatan Lawang Tingkat 1
bellawinanda49@gmail.com


Sebagai mahasiswa tidak terlepas dari kegiatan tulis-menulis, seperti pembuatan artikel ilmiah, makalah hingga tugas akhir skripsi. Artikel ilmiah merupakan karya manusia didasari pengetahuan, sikap dan cara berpikir ilmiah yang dituangkan dalam bentuk tulisan dengan cara ilmiah pula (Ulfiatin, 1999). Di dalam menulis sebuah artikel maupun karya tulis ilmiah haruslah berdasarkan dengan referensi. Akan tetapi masih banyak dijumpai kegiatan pembajakan karya cipta orang lain yang lebih dikenal sebagai plagiarisme. Plagiarisme adalah menggunakan kata kata atau kalimat hasil karya orang lain tanpa mencantumkan sumber informasi yang jelas. Orang yang mengambil karangan orang lain dan disiarkan sebagai karangan sendiri disebut sebagai plagiator (Widyartono, 2012).
Ada beberapa jenis plagiarisme menurut Marshall & Rowland (dalam Suganda 2006:162) berdasarkan niatnya, ada dua jenis plagiarisme, yaitu plagiarisme yang dilakukan dengan sengaja (deliberate) dan plagiarisme yang dilakukan tanpa sengaja (accidental). Menurut Ulum (2014) plagiarisme sengaja (deliberate plagiarism) adalah tindakan plagiarisme dengan niat untuk mencuri atau sengaja menjiplak karya orang lain secara sadar demi kepentingan diri sendiri dan untuk kepentingan jangka pendek. Plagiarisme tidak sengaja (inadvertent plagiarism) adalah plagiarisme yang terjadi karena ketidaktahuan (ignorancy) terutama dalam cara menggunakan dokumentasi, mengutip dan melakukan parafrase. Menurut Hexam (dalam Suganda, 2006:162), seseorang dianggap sudah melakukan plagiarisme jika dalam tulisannya ia telah menggunakan lebih dari empat kata yang diambilnya dari suatu tulisan orang lain, padahal dalam tulisannya tersebut ia tidak menyertakan tanda kutip.
Untuk menghindari praktik plagiarisme, seseorang haruslah terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan plagiarisme, bagaimana tata cara penulisan artikel ilmiah, karya tulis ilmiah dan lain sebagainya secara baik dan benar. Cara menulis artikel ilmiah yang baik dan benar diantaranya yaitu haruslah ada sumber referensi dari sumber yang terpercaya. Referensi dapat diperoleh melalui buku, jurnal maupun lewat website online seperti google scholar, garuda ristekdikti, researchgate dan doaj.
Selain itu adalah dengan menggunakan kutipan  jika mengutip kata kata atau kalimat dari karya orang lain. Penulisan kutipan ada dua yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Menurut Widyartono (2015:18), kutipan langsung memiliki tiga model yaitu kutipan ringkas <40 kata, kutipan ringkas yang terdiri dari 41-250 kata dan kutipan panjang yang sebagian dihilangkan. Kutipan langsung adalah kutipan salin timpa yang kata kata atau kalimatnya sama persis dengan orang lain dengan mencantumkan sumber informasi yang jelas mengenai penulis. Sedangkan kutipan tidak langsung adalah kegiatan salin timpa ide orang lain yang ditulis menggunakan kalimat sendiri tanpa menghilangkan ide dari sang penulis, disertai dengan sumber informasi penulis yang jelas.
Selain hal di atas selanjutnya adalah dengan menuliskan daftar rujukan. Daftar rujukan berisi tentang nama penulis, tahun pembuatan artikel ilmiah, judul, kota dan penerbit. Dengan menuliskan daftar rujukan maka telah menuliskan identitas informasi yang jelas terhadap artikel ilmiah yang telah dikutip.
Di website terdapat banyak aplikasi untuk memeriksa presentase plagiasi. Artikel ilmiah yang telah ditulis dapat diperiksa terlebih dahulu berapa presentase plagiarismenya dengan menggunakan salah satu aplikasi di website. Apabila presentasenya cukup tinggi maka karya tersebut haruslah di revisi, sebelum diunggah ke salah satu media sosial.
Cara yang dapat memperkecil terjadinya plagiarisme yaitu dengan menghargai karya orang lain, melakukan sebuah parafrasa, bantuan piranti lunak serta dengan dilakukan pengarahan (Wibowo, 2012). Jadi dengan kiat kiat yang telah dijelaskan dapat dijadikan cara untuk menulis artikel ilmiah yang bebas dari plagiarisme dan dapat bermanfaat bagi sesama.


Daftar Rujukan

Suganda, T. 2006. Perihal Plagiarisme Dalam Artikel Ilmiah. Bandung: Agrikultura. 161-164.
Ulfiatin, N. 1999. Penulisan Karya Ilmiah. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Ulum, S. 2014. Analisis plagiarisme penulisan skripsi mahasiswa lulusan tahun 2010 Jurusan Akuntansi Perguruan Tinggi X di Kota Malang. Skripsi (Sarjana). Universitas Negeri Malang: Program Studi Pendidikan Akuntansi.
Wibowo, A. 2012. Mencegah dan Menanggulangi Plagiarisme di Dunia Pendidikan. Jakarta: Kesehatan Masyarakat Indonesia. Vol. 6 No. 5: 195-200.
Widyartono, D. 2012. Plagiat, (Daring), (http://didin.lecture.ub.ac.id/keterampilan-menulis/plagiat#more-747), diakses 8 Oktober 2018.
Widyartono, D. 2015. Panduan Menulis Karya Ilmiah Di Perguruan Tinggi. Malang: Universitas Negeri Malang.


PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA PASIEN LANJUT USIA


Bella Winanda Putri
STr Keperawatan Lawang Tingkat 1
bellawinanda49@gmail.com


Abstrak : Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang banyak menyerang lansia yang disebabkan oleh hiperglikemia atau naiknya gula darah karena kekurangan sekresi insulin sehingga mengakibatkan gangguan metabolik pada tubuh. Faktor resiko dari diabetes melitus tipe 2 yaitu genetik, usia, kegemukan, jenis kelamin, dan pola hidup. Banyak yang beranggapan bahwa genetik adalah faktor resiko yang paling utama, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena pola hidup adalah yang menjadi penentu faktor utama. Jika tidak secara cepat ditangani, dapat memicu penyakit kronis lain yang dapat mengakibatkan komplikasi yang menyerang organ vital pada tubuh. Penderita diabetes melitus tipe 2 biasanya akan dilakukan suntik insulin, tetapi ada cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan pencegahan, penundaan, dan penghilangan faktor resiko. Diperlukan pemahaman terkait diabetes melitus tipe 2 terkait dengan penanganannya.

Kata Kunci : Diabetes melitus tipe 2, insulin, faktor resiko


Pendahuluan
Banyak penyakit yang menyerang manusia salah satu contohnya diabetes melitus. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering dikenal dengan nama kencing manis dan menjadi ibu dari segala macam penyakit.
Diabetes melitus dibagi menjadi beberapa tipe, tetapi diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang sering diderita orang lanjut usia diantara beberapa penyakit yang lain. Hal ini dapat terjadi karena dalam masa lanjut usia akan mengalami perubahan fisik tubuh, dan mengalami penurunan fungsi kerja sistem organ.
Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang ditandai dengan terjadinya gangguan pada karbohidrat, protein dan lemak sehingga menyebabkan terjadinya hiperglikemia. Banyak yang menyalahkan faktor genetik sebagai pemicu penyakit diabetes melitus tipe 2, hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena pemicu penyakit tersebut tergantung dari pola hidup sehari hari.

Definisi Diabetes Melitus Tipe 2
Menurut ADA (dalam Soegondo 2009) diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit metabolik disertai karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau keduanya, sehingga menimbulkan berbagai penyakit komplikasi kronik pada bagian mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah.
Pendapat ini ditunjang dengan pendapat sebelumnya, menurut Depkes (2005) diabetes melitus tipe 2 atau DM Tipe 2 adalah penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas atau gangguan fungsi insulin yaitu resistensi insulin.
“Penderita diabetes melitus tipe 2 mampu memproduksi insulin dalam jumlah cukup, tetapi glukosa gagal masuk ke dalam sel. Menjadi bergantung insulin jika penyakit berkembang parah sehingga insulin tidak mampu dihasilkan oleh tubuh.” (Lingga, 2012:3).
Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit yang banyak diderita pada lanjut usia. Jumlah penderita diabetes melitus terbesar berusia 40-60 tahun (IDF, 2011). Tidak heran jika banyak angka kematian setiap tahunnya. Bahkan menjadi penyebab angka kematian kedua setelah HIV/AIDS. Penyakit ini bahkan dinamakan dengan Mother of Disease.

Gejala Diabetes Melitus Tipe 2
Ada faktor tentu ada gejala yang ditimbulkan. Gejala penyakit diabetes melitus tipe 2 dibedakan menjadi dua yaitu gejala yang tampak dan gejala yang ditimbulkan. Gejala yang tampak seperti rasa haus berlebih, buang air kecil dalam jumlah yang banyak, sering letih tanpa sebab, timbul rasa gatal dan terjadi peradangan kulit menahun (Lanywati 2011:15). Gejala yang ditimbulkan adalah sebagai akibat, seperti penurunan berat badan drastis, timbul rasa kesemutan pada tangan dan kaki, timbulnya luka pada kaki dan tak kunjung sembuh, serta kehilangan kesadaran. Pengidap diabetes melitus tipe 2 memiliki kadar gula darah puasa melebihi 130 mg% dan kadar gula darah 2 jam setelah makan lebih dari 160 mg% (Tjokroprawiro 1986:2). Menurut Soegondo (2004) jika berlangsung menahun berpeluang besar mengakibatkan ketoasidosis ataupun hipoglikemia.

Faktor Penyebab Diabetes Melitus Tipe 2
            Banyak faktor yang mengakibatkan diabetes melitus tipe 2 banyak diderita pada lanjut usia. Faktor tersebut diantaranya keturunan, kegemukan, kekurangan gizi, sering mengkonsumsi obat obatan yang berkepanjangan sehingga menimbulkan efek samping terhadap tubuh, serta penyakit yang menyerang kelenjar endokrin (Ramaiah 2008:11).
Faktor keturunan, usia, dan kegemukan menjadi faktor utama. Resiko terkena penyakit tersebut besar jika ada garis keturunan keluarga yang mengidap penyakit tersebut. Selain itu, faktor usia sangat mempengaruhi karena dalam tahap proses penuaan, kinerja fungsi organ di dalam tubuh juga mengalami penurunan. Menurut Sunjaya (2009) dikarenakan adanya proses penuaan menyebabkan berkurangnya kemampuan sel β pankreas dalam memproduksi insulin. Diabetes melitus tipe 2 juga menyerang orang yang memiliki gaya hidup tidak sehat, seperti kebanyakan mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tetapi kandungan serat dan vitaminnya rendah (Sudarmoko 2005:11). Sebagian besar penderita diabetes melitus tipe  2 mengalami kelebihan berat badan karena penumpukan lemak dalam tubuh.
Selain itu, faktor stress juga mendapat andil yang besar. Penderita akan mengalami tekanan psikologi, untuk itu perlu adanya pengendalian psikologi. Menurut Notosoedirdjo & Latipun (dalam Azizah 2011) pada fase ini tugas lansia untuk melihat perjalanan hidupnya. Menurut Mitra (2008) manajemen stress sebaiknya dilakukan secara terus menerus, tidak hanya ketika tertekan.

Komplikasi Penyakit Diabetes Melitus Tipe 2
Banyak penyakit yang timbul akibat diabetes melitus tipe 2. Menurut Tabrani (1995:15) komplikasi penyakit yang diakibatkan diantaranya penyempitan pembuluh darah jantung, penyakit pembuluh darah ginjal, penyempitan pembuluh darah otak, penyakit yang menyerang organ mata, terjangkitnya berbagai macam infeksi seperti infeksi tuberkulosis dan infeksi pada kaki.
Tidak jarang penderita diabetes melitus yang sudah parah menjalani amputasi anggota tubuh karena terjadi pembusukan (Depkes,2005). Hal ini dapat terjadi karena pasien mengalami keterlambatan pengobatan, sehingga ketika dibawa ke dokter kondisi penyakit pasien sudah akut.

Pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2
Setiap penyakit tentu ada cara untuk mengobatinya. Menurut Ramaiah (2008:26 & 139), untuk mengobati diabetes melitus dengan beberapa cara, diantaranya melakukan suntik insulin, gaya hidup yang lebih sehat, olahraga secara rutin, menggunakan obat syzgium, jaborandi, gymnema sylvestra, uranium nitrat, asam fosforat, asam laktat, asam asetat serta fosfor, melakukan relaksasi diri, menjaga pola makan atau memodifikasi makanan, terapi air dan lumpur untuk meningkatkan fungsi pankreas dan kaki, menghilangkan racun.
Alangkah baiknya melakukan upaya agar tidak terjangkit penyakit diabetes melitus tipe 2. Diabetes melitus tipe 2 bisa dicegah, ditunda kedatangannya atau dihilangkan dengan mengendalikan faktor resiko (Kemenkes, 2010).
Faktor resiko terhadap penyakit tidak menular dibedakan menjadi dua, pertama adalah faktor resiko yang tidak dapat berubah seperti jenis kelamin, usia, dan faktor genetik. Faktor resiko kedua yang dapat diubah seperti kebiasaan merokok (Bustan, 2000). Cara pencegahan dan penanggulangan penyakit diabetes melitus tipe 2 adalah kesadaran individu, menjaga pola makan dan gaya hidup sehat didasari pengetahuan. Bisa juga dengan menjalankan diit diabetes tipe 2 (Tjokroprawiro 1999:17). Dengan adanya pengetahuan orang akan memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatannya (Irawan, 2010). Peran penyuluhan penyakit ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien dalam mengendalikan diabetesnya (Soegondo, 2004). Dalam upaya ini diperlukan kerja sama yang baik antara pasien dengan tenaga medis seperti perawat maupun tenaga medis yang lain terkait dengan komplikasinya.

Penutup
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit tidak menular dimana penderitanya mengalami kelebihan gula darah sehingga mengganggu fungsi kerja hormon insulin yang disebabkan bukan hanya karena faktor resiko genetik tetapi juga pola hidup yang tidak sehat. Untuk mencegah penyakit ini meliputi pencegahan, penundaan, penghilangan resiko, juga dapat dilakukan dengan pemahaman penyakit serta kembali pada kesadaran pola hidup sehat pada masing masing individu, dan untuk hasil yang akurat dapat dilakukan dengan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium. Diabetes melitus tipe 2 tidak dapat disembuhkan secara total, tetapi dapat dikendalikan penyebarannya agar tidak menyebabkan komplikasi akut.


Daftar Rujukan

Azizah, L.M. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Bustan. 2010. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Irawan, D. 2010. Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Daerah Urban Indonesia (Analisa Data Sekunder Riskesdas 2007). Thesis Universitas Indonesia.
Kanza, F. 2016. Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Ny.S (70 Tahun) Dengan Diabetes Melitus di Ruang Mawar Panti Wredha Harapan Ibu Ngaliyan Semarang. Semarang: Jurnal Kesehatan. 1-106.
Lanywati, E. 2011. Diabetes Mellitus Penyakit Kencing Manis. Yogyakarta: Arcan.
Lingga, L. 2012. Bebas Diabetes Tipe-2 Tanpa Obat. Jakarta: PT Agro Media Pustaka.
Mitra, A. 2008. Diabetes and Stress. A Review Ethno-Med 2(2): 131-135.
Ramaiah, S. 2008. Diabetes. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Sanjaya, I.N. 2006. Pola Konsumsi Makanan Tradisional Bali Sebagai Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe II di Tabanan. Bali.
Soegondo, S., Soewondo, P. & Subekti, I. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI.
Sudarmoko, A. 2005. Tetap Tersenyum Melawan Diabetes. Yogyakarta: Atma Media Press.
Tabrani. 1995. Kencing Manis. Jakarta: Arcan.
Tjokroprawiro, A. 1999. Diabetes Mellitus Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tjokroprawito, A. 1986. Diabetes Mellitus dan Macam-Macam Diet Diabetes B, B1, B2, B3 dan Be. Surabaya: Lembaga Penerbitan Universitas Airlangga.
Trisnawati, S.K., Setyorogo, S. 2013. Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012. Jakarta: Jurnal Ilmiah Kesehatan. 6-11.

MENGENAL JATI DIRI BANGSA DENGAN MENCINTAI BAHASA INDONESIA



Bella Winanda Putri
STr Keperawatan Lawang Tingkat 1
bellawinanda49@gmail.com


Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, etnis, agama, budaya dan bahasa. Bahasa adalah media untuk menyampaikan gagasan dan konsep. Sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi. Oleh karena itu diresmikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan negara Indonesia yang dapat menjunjung tinggi derajat dan martabat bangsa. Peresmian bahasa Indonesia tertuang dalam ikrar ketiga Sumpah Pemuda.
Walaupun bahasa Indonesia telah resmi menjadi bahasa nasional, tetapi  banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan bahasa daerah karena sudah terbiasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan penggunaan bahasa Indonesia dirasa hanya untuk kepentingan formal.
Bahasa Indonesia alat pemersatu bangsa yang harus dijunjung tinggi penggunaannya. Tetapi banyak ditemukan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku. Terlebih ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat pesat, ditandai dengan banyaknya media sosial yang mudah diakses menggunakan internet. Hal tersebut tentu menimbulkan dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak negatif yaitu kesalahan dalam penggunaan bahasa Indonesia.
Generasi muda sekarang sering menggunakan bahasa gaul dan bahasa Internasional, agar berpredikat sebagai remaja kekinian. Dapat dijumpai pada media sosial seperti Whatsapp, BBM, Facebook, Twitter, Instagram, Line dan sebagainya. Mirisnya generasi muda beranggapan bahwa bahasa gaul terkesan lebih santai, tidak kaku, lebih mudah dimengerti, dan tidak ketinggalan zaman, dibandingkan dengan bahasa Indonesia yang terkesan kaku dan formal.
Guna menjalin hubungan dengan negara lain, institusi, lembaga bahkan sekolah dituntut untuk mahir menggunakan bahasa Internasional. Contoh mata pelajaran wajib bahasa Internasional di sekolah seperti bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Jepang dan sebagainya. Keterbiasaan tersebut yang menyebabkan penggunaan bahasa Internasional marak digunakan dalam bahasa sehari-hari. Jika dibiarkan, cepat atau lambat bahasa Indonesia dapat terkikis oleh bahasa lain. Apalagi jika penggunaan bahasa tersebut sudah mendarah daging pada generasi muda, sehingga sangat sulit untuk mengembalikan bahasa Indonesia menjadi bahasa jiwa bangsa.
Sebagai generasi muda, wajib menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Yang paling sederhana yaitu kesadaran pada diri sendiri  dalam menyikapi pengaruh budaya asing agar tidak melunturkan bahasa dan budaya bangsa. Sudah menjadi tugas generasi muda untuk bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kalau bukan generasi muda siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia agar tidak terkikis seiring perkembangan zaman. Ayo marilah bersama sama mengenal jati diri bangsa dengan mencintai bahasa Indonesia.